Noheartfeeling’s Blog

BELAJAR DARI KELEDAI

Posted on: Februari 28, 2009

Di sebuah desa, seorang petani kehilangan keledainya. Cape mencari,
tak ditemukan juga keledai itu. Tapi, ketika dia lelah mencari dan
duduk di bagian belakang rumah, samar telinganya mendengar ringkik
memelas dari keledainya. Suara itu lirih, sedih. Tapi dimana? Dan
kenapa suara itu bergema?

Beringsut petani itu mencari sumber suara. Dan, jauh di belakang
rumah, di dalam sumur kering yang tak terpakai, dia meemukan
keledainya, bergerak gelisah, dan memekik. Petani tua itu tak tahu
harus berbuat apa. Menarik keledai ke atas, tentu dia tidak kuat. Juga
bagaimana menariknya? Lama berfikir, akhirnya dia pun pasrah.
“Keledaiitu telah tua, dan sumur itu terlalu berbahaya jika dibiarkan
saja,” batinnya.

Ia pun memutuskan untuk mengubur si keledai tuanya hidup-hidup di
sumur itu. Dengan mengajak beberapa tetangga, dia mulai mengayuh sekop
dan melemparkan timbunan tanah ke dalam sumur. Ditutupinya telinga,
agar tak mendengar pekikan keledai yang seperti kehilangan harapan,
dan dia memintatetangga mempercepat menimbun tanah ke sumur. “Kian
cepat, makin lekas tangisan keledai itu hilang,” kilahnya.

Dan benarlah. Tak lama tak terdengan lagi suara keledai dari dalam
sumur. Menyangka sudah tertimbun, petani dan tetangganya melongok ke
dalam sumur. Tapi, pemandangan di bawah begitu mengagetkan mereka.
Takjub, terpukau. Ternyata, keledai itu masih segar bugar, dan sedang
sibuk menggoyang-goyangka n badannya. Namun, setiap satu sekop tanah
yang jatuh menimpa tubuhnya, keledai itu akan menggoyangkan
punggungnya, menggugurkan timbunan tanah. Dan setelah tanah turun,
keledai itu akan memijaknya, menjadikan titik tumpu. Menyadari hal
itu, kian bersemangat petani dan para tetangga menimbun tanah. Keledai
terus saja mengibaskan tubuhnya, dan bergerak naik seiring tanah yang
kian banyak memenuhi sumur. Dan tak sampai setengah hari, sumur itupun
mulai penuh tanah, dan keledai itu meringkik, meloncati bibir sumur,
dan berlari. Pergi.

HIKMAH HARI INI : Kehidupan ini akan terus menuangkan tanah dan
kotoran kepadamu. Hanya ada satu cara untuk keluar dari kotoran
–kesedihan, masalah, cobaan, dan lain sebagainya– itu, yakni dengan
menggerakkan tubuhmu, membuang segala kotoran itu pikiran dan hatimu.
Dengan cara itulah, kamu dapat menjadika semua masalah sebagai
pijakan, melompati sumur kesengsaraan. Keledai itu telah memberikan
contoh terbaik. Dan tak ada salahnya, kita belajar dari keledai dan
lagi-lagi kita harus belajar dari keleda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: