Noheartfeeling’s Blog

Industri Komponen Lokal Terseok-seok di Pasar ASEAN

Posted on: Februari 25, 2009

FAKTA

Menuju integrasi pasar ASEAN 2010, Indonesia di sektor otomotif menargetkan mampu mengambil peran sebagai pemain di industri komponen. Namun, faktanya industri komponen dalam negeri masih jauh tertinggal. Sementara itu, Thailand yang merupakan pesaing utama di bidang otomotif semakin melaju.

PERMASALAHAN

Geliat industri otomotif di Indonesia tampak tidak diimbangi dengan tumbuhnya industri pendukung. Sejak liberalisasi kebijakan otomotif dikeluarkan pemerintah tahun 1999 silam, memang terjadi perkembangan drastis pada industri otomotif. Selain komposisi pasar berubah, kompetisi terjadi secara terbuka dengan masuknya merek-merek asing ke Indonesia. Sejumlah  perusahaan yang menghasilkan produk prinsipal mulai melirik Indonesia sebagai tempat berinvestasi. Pertumbuhan penjualan produk otomotif baik roda dua dan roda empat juga terus melonjak. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Indonesia (Gaikindo) tahun 2006 penjualan roda empat diperkirakan mencapai 600.000-620.000 unit, atau naik 12,58% pertahunnya,  Sedangkan penjualan roda dua di Indonesia jumlahnya jauh lebih tinggi dari roda empat, yakni 3 juta unit pada akhir tahun 2006.  

Pasar otomotif di dalam negeri memang menunjukkan perkembangan yang siginifikan. Namun daya saing komponen lokal tidak kuat. Industri komponen terlihat tidak terjadi pertumbuhan. Saat ini jumlah industri komponen baru mencapai 250 perusahaan dengan komposisi perusahaan 80 persen bergerak di komponen roda dua dan 40 persen komponen roda empat. Bandingkan dengan Thailand dalam sektor otomotif mempunyai sekitar 1.709 perusahaan komponen dengan 709 perusahaan sebagai pemasok komponen original untuk perusahaan perakitan atau OEM (Original Equipment Manufacturine) dengan perincian 386 sebagai pemasok untuk kendaraan roda empat, 201 perusahaan untuk roda dua dan 122 perusahaan memasok sekaligus untuk keduanya.

Indonesia menargetkan sebagai pemasok utama komponen di ASEAN sebenarnya mampu bersaing di pasar dunia.  Akan tetapi melihat gambaran industri komponen di Indonesia yang mengandaikan struktur industri komponen sebagai piramida maka struktur industri komponen Indonesia berada di level bawah atau menduduki jumlah terbesar dengan tingkat strata II yang memproduksi alat press, kaca, radiator dan lain-lain dan strata III dengan produksi antara lain transmisi, gir, plat rem dan plat kopling.

Industri komponen nasional menghadapi sejumlah kelemahan pada bidang manajemen dan teknologi. Manajemen umumnya dikelola secara usaha keluarga, pengetahuan akan tata cara pemasaran sangat minimal dan kurang aktif melakukan kegiatan pemasaran. Pengetahuan bidang teknologi pengendalian produksi secara modern sangat terbatas dan terbiasa dengan menggunakan peratalan dan fasilitas yang ketinggalan. Sistem pengendalian kualitas yang lemah sehingga menghasilkan kualitas yang tidak konsisten dan ratio kegagalan tinggi. Di lain pihak harga bahan baku juga menjadi hambatan perkembangan produktivitas. Sejumlah bahan baku, khususnya baja belum tersedia cukup di dalam negeri serta permesinan yang memadai, bahkan bahan baku produk komponen hampir seluruhnya adalah impor. Meski ada fasilitas keringanan bea masuk 5 persen untuk bahan baku hal itu belum mengurangi hambatan.

Bagaimanapun tantangan perkembangan industri komponen tidak sedikit. Membanjirnya produk impor dari Cina dan Taiwan yang masuk dengan harga murah, khususnya di pasar after market, menjadikan produk nasional sulit bersaing. Di lain pihak untuk menjadi pemasok komponen asli otomotif pada berbagai pabrikan otomotif, lebih dikenal dengan OEM, terhambat dalam soal standardisasi QCD (Quality, Control dan Delivery). Dalam hal ini Indonesia masih belum mampu bersaing karena masih mengandalkan produksi principal yang mengedepankan produk yang banyak di gunakan.

 

PEMABAHASAN

Tanpa mengabaikan kemampuan industri komponen yang berkualitas namun secara umum untuk melihat Indonesia menjadi eksportir komponen di ASEAN, apalagi dunia barangkali masih sulit. Terlebih, tanpa dukungan dari pemerintah. Perlu ada restrukturisasi permesinan, peningkatan standar kompetensi dan penguasaan teknologi informasi sehingga component makers bisa berhubungan langsung dengan perusahaan produsen.

Pasar otomotif ASEAN digambarkan sebagai pasar yang berkembang pesat. Pada tahun 2006 mencapai 2 juta unit sedangkan roda dua pada periode sama dari 4 juta unit menjadi 7 juta unit. Pasar ASEAN akan menjadi pasar yang menggiurkan bagi industri komponen tidak hanya bagi negara ASEAN juga dunia. Nilai ekspor komponen Indonesia memang masih rendah. Selama tiga tahun terakhir boleh dibilang cenderung stagnan. Namun nilai ekspor komponen Thailand grafiknya terus menerus naik. Dengan kondisi saat ini kemampuan industri komponen lokal merambah pasar internasional masih sulit semuanya sangat tergantung kepada semua stake holder, khususnya pemerintah. Apabila pemerintah mau fokus pada industri komponen pasti bisa tapi harus diiringi dengan niat untuk mendukung dan  seluruh departemen terkait harus ikut mencurahkan perhatian. rendahnya daya saing Indonesia terlihat dari kecenderungan industri komponen masih berorientasi pasar dalam negeri. Hal itu tidak terlepas dari kecilnya produk komponen yang berstandar internasional.

Di lain pihak industri otomotif internasional sangat ketat menerapkan kualitas produk. Saat ini di dunia menetapkan konsistensi untuk setiap komponen yang digunakan, artinya dalam kondisi apapun dan berapapun jumlah produksi mutu harus tetap sama. Untuk mendukung itu pasar global memberlakukan standardisasi produk komponen dengan yang berlaku di Uni Eropa dan Amerika Serikat. Dari seluruh produsen komponen di Indonesia baru ada lima perusahaan yang sesuai dengan standar tersebut.

 

Depperindag sebagai instansi teknis yang membina industri memang telah membuat program aksi pengembangan jangka pendek maupun jangka panjang. Sasaran jangka pendek 2005 – 2010 antara lain meningkatkan investasi industri komponen, meningkatkan kemampuan teknologi, mengamankan pasar dalam negeri dengan penataan tarif perpajakan dan penggunaan produk dalam negeri. Sasaran lain yang ditekankan adalah meningkatkan ekspor terutama di pasar ASEAN. Dari program tersebut terlihat pemerintah menyediakan insentif berupa kemudahan pajak.
Juga direncanakan pengembangan sistem cluster yang berarti industri komponen berada pada satu lokasi atau mendekati industri perakitan. Sistem ini dianggap meningkatkan efisiensi karena momotong biaya distribusi. Pemerintah Thailand mempunyai program mendukung industri komponen dalam rangka peningkatan kualitas sejak 1998 dalam bentuk insentif fiskal dan insentif non pajak. Hasilnya, produksinya mampu mencapai standard internasional dan ekspor melonjak tajam.

Ke depan persaingan semakin tajam. ASEAN menjadi pasar terbuka, yang tidak hanya dimanfaatkan oleh negara anggotanya sendiri bahkan dunia. Kekuatan pasar ASEAN dengan 500 juta penduduk ditambah penrunan bea masuk menjadikan wilayah ini sangat menarik. Apalagi pasar bebas ASEAN-Cina membuat ASEAN membuat semakin banyak negara yang berebut di dalamnya. Semua negara akan menggenjot industrinya, tinggal bagaimana Indonesia bisa mengantisipasi dan memanfaatkan peluang tersebut.

 

-DaMaR-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: